ikan malam

seperti ikan malam kita berkelana
dalam suram muram yang bercabangcabang
mencari dalam temaram cahaya yang menggantung di kepala
penuntun hati, kendara jiwa
harus ke mana? namun suara balik bertanya
harus ke mana?

kami tersesat tak hendak pulang
kami ingin sampai ke sebuah tujuan

namun ke mana?
kali ini tanya tak berbalas
deru waktu acuh melaju melindas
segala

tak ada pilihan, kita tak kuasa
mari teruskan perjalanan
hingga kala hendak membuka suara
yang kini bungkam menjaga rahasia:
tujuan akhir kita

menunggu

yang tak pernah kau mengerti adalah
aku bukan penggenap
aku senantiasa menunggu untuk mendekap
menantikan sayap-sayap patahmu terbang mendekat meski
hanya untuk sejenak

katamu: ini aku, dukaku, lukaku, hiburlah aku!

jawabku: ini aku, diriku, selalu segenap
bersiap merengkuh dirimu sepenuh walau yang kupunya mungkin hanya sepenggal.
datanglah padaku.

yang tak pernah kau sadari adalah
ketika lukamu menjelma lukaku dan sepotong rindu
kemudian aku yang terus menantimu
namun kau terus ragu untuk berpulang padaku

insomnia

aku takut terlelap hanya untuk melihatmu terjaga dalam mimpiku.

aku, kala

aku, kala
detakku menjadi detik yang menemani tiap hela nafasmu
yang kemudian menjadi detakmu juga
aku tak bisa berhenti, maka kaukejar aku sekuat tenaga
kita mengalir bersama

aku, kala
kini kau tua renta
kaubilang aku pembawa duka
kau berhenti mengiring
sekarang tinggal aku
tergiring

aku tak bisa berhenti, sayang
juga tak kuasa membencimu
maka kukirimkan airmata dan sebuah doa
kepada keabadian, kekasih barumu

yang kalut yang semrawut

Bukannya tidak mau menerima konsekuensi, gw sadar kalau memutuskan menyayangi seseorang itu berisiko sakit hati. Gw juga tahu kalau mencintai itu katanya jangan sepenuh hati. Kata orang, itu cari perkara namanya. Gw juga sangat mengerti kalau tidak semua yang kita inginkan bisa didapatkan. Tetap, gw sekarang jadi gamang.

Di masa kritis menjelang kelulusan, ada dua hal yang gw pikirkan: keluarga dan jodoh. Pendidikan profesi gw akan menjauhkan gw dari yang satu dan mempersulit urusan yang kedua. Tanpa disadari, nanti, begitu selesai melengkapi pendidikan yang gw butuhkan, gw akan berada di pertengahan usia 20 dan 30 tahun. Sejuta 'bagaimana kalau' langsung menghantam kepala. Salah satunya: bagaimana kalau gw masih saja sendiri?

Beberapa orang bilang standard gw ketinggian. Tapi standard gw sebenarnya cuma orang yang mau gw perjuangkan, memperjuangkan gw, dan sama-sama berjuang buat relasi yang serius. Gw harus mengakui gw lelah memperjuangkan orang-orang yang ternyata bukan untuk gw. Mungkin ini gara-gara kelemahan gw juga, gw tidak mengerti konsep 'jangan 100% dalam menyayangi' atau konsep 'coba-coba / jalani dulu aja lah'.

Gw tidak siap untuk sakit hati lagi. Paling tidak belum.
Gw lebih siap untuk sendiri dulu ketimbang berharap dan patah lagi.
Tapi lagi-lagi gw bertanya: apakah gw sedang membohongi diri?
Karena makin lama jujur pada diri sendiri menjadi salah satu hal tersulit yang harus gw lakukan.

kalau

Seandainya, kalau, dan andai.
Entah sudah berapa kali kugumamkan dalam hati, di bibir, seiring denyut dan nafasku yang terputus-putus saat aku menangis. Di pergantian hari yang katanya sungguh bermakna ini: 11-11-11, entah kenapa harus kudengar juga andai-andai yang kupikir takkan kudengar lagi.

Seandainya aku memutuskan untuk bersamamu waktu itu semua pasti tak akan begini, itu katamu.
Kita tidak akan sama-sama maraton patah hati dengan orang yang kita jatuhcintai.
Kita tidak akan sama-sama mengeluhkan kesendirian yang kita resapi.
Kita tidak akan takut menitipkan harap pada sebuah hati, pada yang kita sayangi.

Ada sedikit takut ketika kamu ucapkan kata-katamu subuh ini setelah tahun-tahun yang telah berlalu.
Ada sedikit kecewa ketika aku tahu kamu ucapkan itu padahal kamu baru saja memutuskan enggan sendiri, kamu memilih berdua.

Bukan, aku bukan cemburu, karena dalam hati kamu selalu sahabatku.
Aku hanya resah karena kata-katamu: tak ingin menaruh harap.
Sejak kapan kamu begitu mudahnya bermain hati?
Katamu kau takut sakit hati, tapi bukankah kita sama-sama tahu risiko dalam mencari belahan hati?

Kalaumu menyebabkan galauku.
Kalaumu mengingatkanku akan keterlupaan yang kubuat.
Akan kalauku.

Lalu kini kurenung, masih adakah seseorang yang pantas kupanggil lelaki sejati?

dewasa

Apa artinya menjadi dewasa?
Kalau menjadi dewasa artinya harus membuang cita-cita,
berhenti membaca buku dan film yang berisi dongeng,
berhenti melakukan permainan anak-anak,
betapa sempitnya arti sebuah kedewasaan!

Berkali-kali gw mengatakan gw ingin menjadi dewasa, tapi sekarang gw berada dalam kegamangan. Sebenarnya apa arti menjadi dewasa? Ya, bertanggungjawab termasuk di dalamnya, kemudian apa?  Kalau dengan gw melakukan semua hal yang gw tuliskan di atas lantas gw dicap kekanak-kanakan dan tidak dewasa, lalu bagaimana dengan orang yang tidak tepat janji, yang hanya bisa mencela, dan bermuka dua? Apa sebutan mereka? Karena buat gw, orang-orang yang demikianlah yang pantas dikatakan kekanak-kanakan dan bermental kerdil. Tapi nyatanya, bagi beberapa orang, hal-hal tersebut adalah hal yang hanya diperbolehkan dan merupakan indikator menjadi 'dewasa',

Seandainya menjadi diri sendiri merupakan hal yang wajar di masyarakat kita, gw ga akan takut kesepian. Gw ga akan takut sendirian.