giving.

Keep on     p o u r i n g
The water has long begone

But you must have something to be given

I do, sweetheart, I do
Let’s soak up

I will keep on giving
drip 
           drip
                      drip
Even if I have to  bleed
                                       .

dearest son,

Maybe in another lifetime
I will meet you and 
be able to love you,
and looking at your beautiful eyes
lovingly, bravely

Maybe in another lifetime
finally I’ll be able to pay this debt
I carry every day, a burden of guilt
for loving myself more than you

Maybe in another lifetime
you wish to not see me anymore
And that’s okay too

I think I will never be
a good mother to you

purapura

apakah kau juga sama
purapura bahagia
di tengah bising dan hirukpikuk yang
terus berpusing
kita hilang dalam pusarannya
jatidiri bersemayam bak di pusaranya

apakah kau juga sama
purapura baikbaik saja
seakan mabuk oleh segambar kehidupan
indah sempurna bak lukisan dengan
warnawarni yang menawan hati
moratmarit dalam pikiran hilang bersembunyi

senyum, tawa
ucap syukur
walau hati berontak, hidup terasa makin tak berotak
“salibmu kecil” 
kata mereka
“kau hanya terlalu gemar menyusun drama”
tuduh mereka

apakah kau juga sama
purapura punya segalanya
ketika tak ada lagi yang bisa kau beri
bahkan untuk dirimu sendiri?

surat malam

sayang,
jika terang berlalu dan
yang tersisa hanya kau dan aku
maukah kau mengecupku sekali lagi
di sini
         di sini
dan             di sini?
lalu genggam tanganku erat dan katakan
bahwa dunia ini indah
seperti yang selalu kau katakan 
untuk membuatku kesal padamu

sayang,
dunia tidak pernah adil
pun melulu bahagia
tapi bersamamu seperti memeluk mentari
meski kerap kali sembunyi di balik gemawan 
namun sinarnya tetap

sayang,
kata orang tidak baik 
menggantungkan iman pada perkataan manusia semata
tapi aku percaya katakatamu meski seringkali isinya gurau
tapi di saat sesak katakatamulah yang menghapus galau

sayang, selamat tidur
kecup untukmu dari jauh
aku terus saja menghitung detik demi detik
untuk kembali ke peluk hangatmu
dan masih terus saja membayangkan
kelak mengulang lagi kisah berdua di masa tua.


sayang

aku menyayangimu tanpa tapi
kataku
tanpa kutahu
sayangmu
prorata bak gaji anak magang
ucapku
menakar sayang yang kau rasakan
manusia
kamu juga

maafkan aku yang tak bisa melindungimu

cukup aku saja
agar kamu berbahagia
karena air matamu terlalu banyak jatuh
di saat aku tak mampu membendungnya
biar aku saja
yang merasa segala
sakit yang kau rasa 
kelam yang kau simpan
karena aku tak kuasa melindungimu dari semua

anak baik
anak baik
anak baik

karena aku anak baik
bukan?

tato

entah sudah berapa 
banyak katakata yang kau patri
satu demi satu berjatuhan bagai 
titiktitik hujan, tajam

entah sudah berapa
banyak katakata yang kau tanam
kini mereka mekar menebar
duriduri hingga ujung mimpi

katakata yang kau katakan 
berasal dari sakit, menyakiti
kugenggam mereka erat
agar tak bisa pergi
cukup aku
akhirnya padaku

p.s: 
apakah katakata ini pernah kau genggam pula
dan kau besarkan dalam luka
berharap mereka lemah dan meniada
lalu tetiba semua siasia?
ataukah itu ramalan tentangku
ketika tak lagi aku mendekap katakata yang berbahaya 
agar tak menebar luka?

hampa

ada hampa
mengisi 
yang tadinya
senyum di wajahmu
yang tadinya
bahagia di hatiku

aku terlalu harap
kini yang kulukis di angan tak sama dengan nyata
aku terlalu pongah
kukira aku cukup
nyatanya tak pernah

aku hidup menahan rasa
lamalama aku bungkam pada masingmasing mereka
yang satusatu berkata
“jangan bilangbilang ya”
lamalama aku mati merana karena masingmasing mereka
menanam siksa padaku
“jangan bilangbilang ya”

malam ini aku menutup mata
berharap hampa menerkamku seketika
agar besok tak lagi ada





tanya diri

kalau belum apakah boleh
kalau sudah apakah salah?

sejak kapan merasa gembira adalah salah?
sejak kau berpikir, tak hanya merasa
sejak kapan melempar kata berubah tak pantas?
hentikan, kau, pembenaran apa yang kau inginkan untuk dirimu jawab?

karena selama tak dikatakan banyak hal tak menjadi nyata
namun aku
terlalu banyak tahu
untuk tak tahu

aku ingin pulang

aku ingin mengurai serat kata
dan menganyam adamu saat ini
mengapa waktu berlari dan melambat sesuka hati
ketika aku rindu, kuhitung hari 
ia mogok di pangkuan
ketika aku kenang, tenggelam dalam nostalgia
ia terlepas dari genggaman
sungguh, sayang, terkadang
aku takut wajahmu terlupa
atau nantinanti cintamu alpa
karena terlalu lama aku kelana
sayang, aku ingin pulang
telentang bersisian
bertukar kisah tanpa selisih waktu
berkelakar dalam dekapmu
di tepi jendela

sayang
sungguh, 
aku ingin pulang





senja

ada secangkir senja yang mengintip
di tepi jendela
merahnya menggoda
seperti kenang yang tak kunjung hilang
seperti rindu yang kusesap sendu
perlahanlahan ia memudar jadi kelabu
saat itu aku akan pulang
menemukanmu menanti di balik jendela
pulang
seperti matahari yang bersandar di pangkuan samudera biru
aku pun akan bersandar di bahumu

lacuna

di selasela jemari
di hampa serentang lenganku
aku mencarimu

kau dan katakata
bukanlah seperti aku dan mereka
kalian tak identik, tak juga seirama
maka aku merabaraba rasa yang kau resapi

di cincin yang menggantung
di ribuan pesan yang terkirim
ada sebilah rindu yang menghunusku 
ada hilang yang bersabda

seandai kau katakan cinta seribu kali lebih sering
apakah bisa kutanggalkan janggal yang berkecamuk
ataukah jenuh yang akan berkuasa?

sungguh
sayang, 
aku ingin pulang.





untuk kekasih yang tidur dalam dekapan

ada banyak kata yang ingin kuucap
tapi nyata aku terdiam memandangmu lelap
satu dua kau hitung degup dari dada
kau takjub ada banyak suara dari hanya sebuah tubuh
aku takjub melihatmu ada

kekasih yang tidur dalam dekapan,
ada banyak tahun yang merentang dari tepi jendela
semoga ada banyak tahun yang meregang dari kini 
saat kita bersama
sayang, tunggu aku pulang


mungkin pergi jauh adalah sebuah jawaban

(mari bahagia)
ada satu harap yang menyelinap tumbuh diamdiam
ada satu cemas yang bersembunyi bersamanya
(mari bahagia)
aku merekareka aku yang mana di benakmu
kamu yang mana yang harus kueja
di persimpangan cerita kita bertemu dengan kisah, tawa dan airmata dalam genggaman
masingmasing yang terhilang dari waktu yang tiada
tapi katamu 
(mari bahagia)
dan aku ingin
sungguh, aku berusaha
namun
sungguh aku tak layak
katamu
(mari bahagia)
mari,
cukupkah kubayar dengan airmata?


ninabobo

selamat tidur, sayang
esok pasti lebih baik
seperti yang selalu kau janjikan padaku

semoga yang mengusikmu tiada
dan suarasuara lampau enggan bicara
semoga tengah malam kau lelap dalam buaian
bukan berteman gelisah kelam

aku ingin memelukmu
esok, lusa, kemarin, dan hari ini
rindu berbincang dengan sentuhan
ujung jemarimu
batas rambutmu
napasmu

selamat tidur, sayang
semoga besok kuucapkan selamat pagi
yang akan kau balas dengan senyum, 
sekali lagi

selamat malam, matahari


kebiasaan

aku ingin egois
supaya dia untukku saja
supaya besokbesok yang dilihatnya cuma
aku
yang dipanggilnya sayang
yang dimanjakannya
yang memilikinya

tapi ibu bilang jangan

enam kepada tujuh

sudah duabelas putaran bumi menari 
namun kita masih saling mencari
sejak tepi jendela saat itu
kita kembali di persimpangan
aku, kamu, tepi jendela yang lain

kali ini bukan seragam
hanya baju pergi dan dua kamera
satu peta dan banyak tawa
jalanjalan nyasar dan bungabunga
dan kisahkisah dalam gelap

peluk, katamu, harus selama duapuluh detik
maka berulang kali duapuluh detik kita habiskan dalam diam
rasakan saja deburnya, bisikmu
aku masih di tepian, menimbang perasaan
sementara kamu sibuk tenggelam
peluk, katamu, membahagiakan

kali ini bukan ulangan
yang membuatku meneteskan airmata
tapi katakata dan kenangan
lalu kamu, masih
berdiri di hadapanku menanti sebuah jawaban

menunggu, katamu, adalah keahlianmu
namun ada berapa banyak lagi sabar yang kau punya sementara
ada cemas luar biasa yang kurasakan nyatanyata
tunggu aku, kataku, entah di mana ujungnya kali ini

tak tahukah kamu
hati dan kepalaku tak selaras
mereka terus menerus mendaras
celotehan celotehan yang berbeda, kadang bersama, kadang berbeda
tunggu aku, kataku, entah di mana ujungnya kali ini

di tepi jendela
aku
kamu
kacakaca
kenangan
bertemu lagi


alodinia

satu biru dalam mimpi
tapi tak kau penuhi
satu persepsi kau bagi
nyeri

hm

satu gumam darimu
lekat menggubah fantasi

hujan hijau

Di perempatan masa kita jumpa
dan aku yang keburu terluka
berusaha menepis "halo" darimu
kau bilang kau berbeda, namun aku masih
lalu aku khianat janji demi dirimu
mainmain api demi hatiku sendiri

kemudian dalam satu degup kau menggenggam tanganku

ada kata rindu yang merundung harihariku
kebanyakan untukmu,
sedikit untuk masa lalu
namun aku diam
takut jika kukatakan kau akan tertawakan aku, mengubahku kelabu

kau adalah hujan hijauku
tempatku berlari mencari satu dekap 
meski masih aku bertanya 
akan ke mana aku kau bawa