Showing posts with label sepenggal. Show all posts
Showing posts with label sepenggal. Show all posts

surat untukmu

sayang,
mungkin aku merindukanmu
sedikit
merindukan kita yang dahulu
karena tegursapa yang ada tak lagi sama
dan kau (akhirnya telah) berbahagia

bukan dusta ketika kukatakan aku menjatuhcintaimu
namun mencintaimu aku tak sanggup
mungkin aku memang tak bisa mencintai
selain aku dan hanya aku

sayang,
aku ingin melarikan diri ke dalam benak seseorang
memintanya mencintaiku aku tak sanggup
dalam dirinya kulihat sepetik dirimu
tawa dan kisahnya adalah hujan cahaya
genggamnya adalah secangkir hangat yang aku inginkan
sama seperti dulu, sama sepertimu
perlahan ia menjadi candu

aku takut
bila hidup menuntut karma atasku
maka harus karam rasaku
seperti yang dulu telah kulakukan atasmu


gaduh

ini malam yang riuh, seperti yang sudahsudah semenjak kau tak lagi di sini
katakata mengerang dalam sepi yang bungkam, tenggelam dalam jeram rasa
aku bisa mendengar isak tangis kata yang tak kuasa bersuara, takkah kau dengar?

ini sungguh malam yang gaduh, tempat katakata mengaduh
dari sekian kutukan yang tak terkatakan, katakata memilih tiada dalam selimut kenangan
dalam selimut anganangan bayangan, yang rupawan namun semu
sepertimu.

sayang, ada seratus kata yang ingin kuucapkan padamu setiap malam,
di antaranya ada puluhan rindu dan kata tanya
namun aku lalu menghapus mereka tiada di dalam kepala
meski beberapa berhasil lepas hanya untuk tewas atau
bungkam dalam sepi yang riuh, sepi yang gaduh
sayang, katakata luruh,
terdengarkah?

pelengkap: maaf

Sebenernya gw nulis bagian 'sepenggal: maaf' bareng sama tulisan ini dan sangat berniat menulis tentang maaf karena kejadian yang akan gw sertakan berikut, tapi entah kenapa kemaren pas mau gw posting, gw merasa ragu. Setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya tetap perlu gw masukkan deh..

Salah satu teman baik gw punya hobi yang terbilang agak aneh nan ajaib, dia suka bilang kata maaf dalam paket: "maaf, ya, maaf, maaf" dan dalam frekuensi yang terbilang sering. Yang dengar aja suka cape sendiri dan suka bingung kenapa, sih, harus sering banget bilang maaf ( itu dan keanehan dia lainnya, seperti bilang 'makasih' kalau dimintain tolong buang sampah). Kita semua berkesimpulan dia sebenarnya anak baik yang memang agak aneh aja. Yah, ga heran juga sih dia mau jadi sahabat gw ( adalah aturan ga tertulis kalau teman dekat gw pasti aneh, simply karena katanya gw aneh; gw harus bangga atau sedih ya?).

Setelah nyaris 3,5 tahun bersahabat, baru sekitar 2 minggu lalu gw berkesempatan denger alasan paket maafnya. Itu pun setelah kita ngobrol buka-bukaan yang, percaya ga percaya, ga pernah kita lakukan sebelumnya. Tapi kita benar sahabatan. Rasanya agak aneh juga, sih, kalau dipikir lagi, jadi selama ini kita ngapain aja? Pertama-tama gw bilang gw sering 'kepikiran': takut berbuat salah ini-itu, takut menyinggung orang, takut dinilai jelek. "Nah, itu dia alasan gw selama ini sering ngomong maaf!" katanya. Oh, gitu! Ternyata kita sama ya, cuma beda reaksi: gw tipe kepikiran ribet dan menyiksa diri karena memilih mingkem dan terus-terusan merenungi apa ada yang salah, dia tipe kepikiran praktis yang merasa daripada makin salah lebih baik langsung hajar 'maaf' saja.

Gw belajar hal baru di situ. Lagi-lagi gw jadi ingat ga boleh nge-judge orang, kalau perlu tanya ya tanya deh sampai puas, daripada penasaran, asumsi dini, dan ujung-ujungnya salah ambil kesimpulan.

Sebenarnya yang buat gw jadi niat banget nulis soal maaf ini adalah peristiwa yang lebih baru lagi terjadinya, ga lama setelah gw memahami makna 'maaf'-nya teman baik gw. Kejadiannya lucu-lucu ga lucu, susah dideskripsikan:

Teman Kenalan Sebut saja X adalah teman baru kakak gw, yang kemudian dikenalkan ke gw sekitar sebulan lalu. Awalnya gw pikir dia aneh, terus gw pikir dia baik, terus dia membuat keanehan yang sungguh membuat gw sangat 'jlegerrrrrkabooommmzzzzzzzdhuaaaaar' (maksudnya gw emosi jiwa, cuma gw udah bingung bagaimana cara jelasinnya). 

Cerita bermula di hari kedua X pulang ke kampung halaman, dia telepon. Awal telepon muka gw masih senyum. Gw pikir, wah baik juga si X, katanya sibuk jaga toko masih sempat aja telepon buat ngobrol ga jelas dan tanya kabar. Ternyata, saudara-saudara, gw berakhir sebagai pendengar suasana toko alias disuruh tunggu dia bantu-bantu. Pertama-tama cuma 5 menit, lama-lama ada mungkin sekitar 20 menit gw bengong pegang HP. Astaga, deh. Disuruh tutup dulu juga ga mau. Bagus. Sabar, sabar, gw pikir. Padahal, seandainya kesabaran gw itu disamakan dengan IQ, pasti gw dibilang IQ jongkok. 

Kejadian selanjutnya lebih menguji mental, karena, entah ide dari mana, tiba-tiba X bilang, 
"Coba deh ngomong sama nyokap gw." 

Gw hening, terus gw tanya dia,

"Buat apaan ya? Terus gw mau disuruh ngomong apa?" 
"Jawab aja: Tante, nama saya *nama gw*. Saya temennya X."
"Ga mau, aneh banget!"
"Wah, loe ga sopan loe! Harusnya loe tuh belajar dari orang daerah, sopan!" *nada menggurui*

Gw bingung. Sungguh.

Sejenak sambungan terputus.

"Nyokap gw mau tanya topik yang di tugas kuliah loe barusan tuh, jelasin ya!"
"Gw jelasin ke loe, nanti loe yang jelasin ya."
"Gw loudspeaker aja ya?"
"Oh, boleh, deh."
"Wah, ga sopan loe!"

Gw ga bingung lagi, gw bete.
Maksudnya, tuh, gimana ya? Apakah dengan memilih tidak bersikap tidak wajar dan tidak sok kenal itu salah? Bahkan niat buat, paling ga, 'ngasih intro' dulu aja ga ada. Dan gw yang dibilang ga sopan. Gw ga mau banyak omong, jadi pas sambungan terputus lagi, gw memilih tidur dan ga bilang apa-apa. Gw berencana menjelaskan ketidaksukaan gw kalau tatap muka lagi. Menjelaskan prinsip di telepon adalah jaminan terjadinya miskomunikasi.

Fast forward ke kejadian di mana kata maaf terlibat dalam sebuah perbincangan telepon.
"Kayanya gw bikin salah sama loe ya?"
"Oh, emang bikin salah apa?"
"Ga tahu juga sih, emang bener ya? Maaf ya!"

Dan dia tertawa ngakak. Maksudnya? Gw langsung lemas.

"Kenapa ketawa yah?" tanya gw.
"Ups, maaf. Tapi emang bener ya gw ada salah sama loe?" *nahan ketawa*
"Lho, emang ngerasa ada salah?"
"Kayanya lho ya, pas terakhir gw telepon itu ya?"
"Masa sih?"
"Iya, apa ya salah gw?"
"Kalau ga berasa salah kenapa minta maaf, ya?"

Otak gw mulai berantakan.

"Jadi bener ya? Hahahaha..habis gw pelupa sih! Maaf ya..hahahaha!"

Gw konfirmasi: 'hahahaha' di atas adalah tertawa. Gw langsung niat cakar-cakar mukanya. Kesabaran gw nampaknya sudah pada tingkat gali kubur sendiri. 

Hari ini sudah beberapa hari setelah kejadian naas itu dan gw masih merasa horor aja kalau kebayang ketawa ngakaknya itu, mungkin dia pernah kena benturan hebat di kepalanya? Atau memang dia agak berbeda? Gw ga akan pernah tahu. Tapi, sesuai pembelajaran gw, gw ga akan nge-judge.  Dan kali ini..ga berani kalau disuruh berurusan lagi sama orangnya, sih. Dimaafkan sajalah dalam hati. :)

sepenggal : maaf

Mungkin bagi sebagian besar orang ga ada perbedaan arti dalam pengucapan kata 'sori' dan 'maaf'. Bahkan seringkali maknanya berkurang jauh. Kalau ga bisa dibilang terjun bebas. Entah kenapa gw akhir-akhir ini sering banget ketemu dua kata itu dan gw jadi berpikir ulang...

Ini mungkin pemikiran gw sendiri, tapi dari kecil gw selalu membuat tingkat minta maaf di kepala gw. Sori dan maaf yang buat orang lain maknanya sama, buat gw punya sedikit perbedaan. Sori adalah kata yang gw ucapkan kalau gw ga sengaja senggol orang dan hal-hal yang menurut gw sifatnya sepele. Sementara maaf lebih berat, lebih dalam, lebih berarti. Pengucapannya juga harus lebih hati-hati. Contohnya, kalau  sampai ada yang sakit hati karena memang gw bersikap terlalu keras atau gw berbuat kesalahan fatal dan sangat merugikan.

Dan lagi, sori maupun maaf adalah bentuk penyesalan yang terucap. Kalau sampai mengucap kata-kata itu, artinya gw menyesal. Menyesali sikap atau kata-kata yang kemudian gw nilai ga pantas, menyesali sikap atau kata-kata yang merugikan dan menyakiti orang lain, atau kedua-duanya. Penting buat gw untuk bersikap selayaknya orang yang menyesal. Selayaknya orang yang meminta, gw mengharap permintaan gw akan dipenuhi: menerima maaf dari yang dirugikan. Gw ga akan bersikap mau kabur karena gw ada di sana untuk bersikap konsekuen terhadap sikap gw. Gw ga pernah berpikir untuk tertawa pada saat gw minta maaf. Karena, apa yang lucu dari minta maaf? Kecuali maaf cuma sekedar kata-kata yang terasa wajib dan jadi terasa janggal saat diucapkan.

Mungkin gw hidup di masa yang salah, mental gw mental kolot. Buat gw permintaan maaf itu masih dan tetap istimewa. Buat orang lain? Kadang gw berpikir sekarang permintaan maaf sudah dilacur, diumpankan cuma buat cari selamat.