enam kepada tujuh

sudah duabelas putaran bumi menari 
namun kita masih saling mencari
sejak tepi jendela saat itu
kita kembali di persimpangan
aku, kamu, tepi jendela yang lain

kali ini bukan seragam
hanya baju pergi dan dua kamera
satu peta dan banyak tawa
jalanjalan nyasar dan bungabunga
dan kisahkisah dalam gelap

peluk, katamu, harus selama duapuluh detik
maka berulang kali duapuluh detik kita habiskan dalam diam
rasakan saja deburnya, bisikmu
aku masih di tepian, menimbang perasaan
sementara kamu sibuk tenggelam
peluk, katamu, membahagiakan

kali ini bukan ulangan
yang membuatku meneteskan airmata
tapi katakata dan kenangan
lalu kamu, masih
berdiri di hadapanku menanti sebuah jawaban

menunggu, katamu, adalah keahlianmu
namun ada berapa banyak lagi sabar yang kau punya sementara
ada cemas luar biasa yang kurasakan nyatanyata
tunggu aku, kataku, entah di mana ujungnya kali ini

tak tahukah kamu
hati dan kepalaku tak selaras
mereka terus menerus mendaras
celotehan celotehan yang berbeda, kadang bersama, kadang berbeda
tunggu aku, kataku, entah di mana ujungnya kali ini

di tepi jendela
aku
kamu
kacakaca
kenangan
bertemu lagi


1 comment:

Anonymous said...

Tujuh kepada Enam

Berbalas kode katanya,
Ini bukan sembarang kode kataku.
Ini aku.
Yang mencoba kembali menyelinap,
Masuk ke sisa ruang dan merapikan kembali kenangan.

Tunggu katamu,
Cemasmu memanggil.
Dalam sabar ku menunggu, sambil terus menata,
Relung yang kau sebut tanya.

Setelah dua belas putaran bumi menari,
Apakah debarku terus menyala?
Apakah deburku terus menggenggam?
Apakah irama langkahku akan terus mengiring perjalananmu?
Apakah bisik kata 'iya' dalam senyum simpul akan kembali terdengar?

Entah dimana ujungnya kali ini,
Walau menunggu adalah keahlianku,
Aku tidak percaya diri,
Apalagi ketika kau tanya padaku. Menyesal?

Namun kini, aku sudah tidak peduli lagi.
Di tepi jendela,
Untukmu,
Aku ada.

Post a Comment