memeluk hujan

ibu, semalam aku memeluk hujan
hujanku hujan yang sepi, hujan yang sendiri
semalam hujanku hujan yang pedih, yang  tak ingin pergi
aku pun demikian

ibu, semalam aku memeluk hujan
hujanku hujan yang merah, amuknya tak suara
amuknya hanya bisa terendus di udara
kemudian turun satu dan satu lagi katakata yang bersengat
walaupun aku tahu tak ada jahat yang tersirat
kami masing masing kembali memeluk sepi yang dulu menjerat

ibu
semalam aku memeluk hujan
aku ingin menangis namun aku tak dapat
lalu perpisahan merapat
aku ingin boleh menggenggam erat
tapi aku tak kuasa menanggung hati yang sekarat

ibu, semalam aku memeluk hujan
dan tidur dalam dekap harum tubuhnya
berharap bisa kusimpan selamanya

surat untukmu

sayang,
mungkin aku merindukanmu
sedikit
merindukan kita yang dahulu
karena tegursapa yang ada tak lagi sama
dan kau (akhirnya telah) berbahagia

bukan dusta ketika kukatakan aku menjatuhcintaimu
namun mencintaimu aku tak sanggup
mungkin aku memang tak bisa mencintai
selain aku dan hanya aku

sayang,
aku ingin melarikan diri ke dalam benak seseorang
memintanya mencintaiku aku tak sanggup
dalam dirinya kulihat sepetik dirimu
tawa dan kisahnya adalah hujan cahaya
genggamnya adalah secangkir hangat yang aku inginkan
sama seperti dulu, sama sepertimu
perlahan ia menjadi candu

aku takut
bila hidup menuntut karma atasku
maka harus karam rasaku
seperti yang dulu telah kulakukan atasmu


batas

di antara kita yang memijak bumi yang sama 
terentang segaris batas yang enggan kuretas
di antara dua pasang mata yang berpandang enggan lepas
tumbuh sebuah tanya yang sama meski tak tereja,
"apakah
kau adalah titik yang mengakhiri anakanak kalimat yang kulepas berkelana?"


(anakanak kalimat pergi mencari satu jati diri dan satu pasangan hati, namun mereka tak pernah kembali)


di antara kita yang menimbang kenang
kelopak memori serupa kembang
jatuh dan terbuang
lalu mengakar menimang mimpi buruk

di antara kita
empat lengan enggan saling menjauh
namun kita menyadari mahal harga satu rengkuh.