menyempurnakan luka



"Hadapi dia."
"Oh. Dan hancur lagi kaya waktu itu? Mau lihat aku kaya gitu lagi?"

Jeda panjang. Gw menutup mata. Apa gw masih punya air mata untuk menangisi hal yang sama?

"Tapi sampai kapan kamu mau kaya gini?"
"Aku udah sembuh, kok, akhirnya. Setelah susah payah, akhirnya aku sembuh."
"Sembuh? Kamu belum sembuh. Dan selamanya ga akan pernah sembuh kalau kamu terus kaya gini. Kalau kamu terus lari."

Gw menghela nafas panjang, sekejap perihnya datang lagi.
Ternyata benar sakit gw belum hilang, cuma bersembunyi.

Suatu hari gw pernah ditanya sampai seberapa parah gw pernah patah hati?
Gw jawab: sampai gw ga bisa lagi mengeluarkan suara saat gw teriak dan tenggorokan gw jadi panas sebagai gantinya, sampai gw ga bisa lagi mengeluarkan air mata saat gw nangis karena entah berapa banyak yang udah tertumpah.

Gw ga pernah menyesali 3 tahun lebih yang gw habiskan untuk jadi pendengar cerita patah hatinya, masa-masa di mana dia hilang dan baru muncul karena butuh tong sampah pribadi atau sekedar teman jalan. Gw ga keberatan dengan sakit hati yang terus tumbuh sejalan waktu. Yang gw sesali adalah 2 hari singkat setelahnya yang penuh janji-janji kosong, yang membuat gw berharap kalau ternyata dia sadar bahwa gw ada untuk dia, bahwa ternyata dia sayang sama gw. Dan bahwa setelahnya dia mengatakan semuanya bohong, semuanya bercanda. Bahkan sampai akhir dia ga tahu di bagian mana dia berbuat salah sama gw. Bahkan sampai akhir ga pernah ada cerita. Ga pernah ada 'kita'. Ga pernah ada apa-apa.
 
"Sempurnakan lukamu."
Ini cerita 6 bulan kemudian, setelah pesan singkat kesekian, setelah hari-hari panjang dengan ketakutan.
Gw mengetik sebuah balasan.
"Memang kamu sudah maafin dia beneran?"

"Ga tahu, karena aku bingung. Aku bingung sebenarnya yang selama ini ga bisa kumaafin itu siapa, dia atau diriku sendiri?"

Gw akan berhenti jadi pengecut.
Kali ini gw akan menyempurnakan luka.
Untuk sembuh.

No comments:

Post a Comment